
Itu pagi yang cerah. Mobil dan motor seliweran kesana-kemari. Bis-bis saling ‘bantai’, menggaet ’sewa’ (baca:penumpang). Udara pagi itu sudah tak segar lagi. Asap-asap knalpot belepotan ke mena-mana. Aku seperti dijejali racun. Sabar… pikirku. Aku berharap bis yang kutunggu segera tiba.
Alih-alih memikirkan udara kotor, aku alihkan saja pandangan ku. Seperti biasa aku memulai mengobservasi orang-orang sekitar. Haha… ber-ubahlah aku seketika menjadi psikolog amatiran. Memperhatikan raut wajah orang dan menerka apa yang sedang mereka rasakan atau pikirkan, merupakan hal menyenangkan loh.
Di depan ku itu ada seorang perempuan. Anak kuliahan gitu deh. Aku lihat sedari tadi ia menelepon. Asik banget deh kayaknya. Bertelepon-ria ia sambil tersenyum-senyum, dan kadang terbahak-bahak. Untung saja ga bikin se-isi halte heboh. Entah siapa yang sedang ia telepon, mungkin pacar atau sahabat karibnya. Sekarang sudah 15 menit berlalu dan ia masih asik ngobrol (kayaknya lebih deh). Baca Lebih Lanjut »