Pemuda : atau mungkin karena aku tak pantas?
Melempar sebutir batu, membiakkan air danau yang sunyi itu.
si akhwat hanya diam… Menahan napas dan sebentar menggeleng.
Pemuda : Aku memang konyol dan tak tahu diri. Begajulan seperti aku, kok berani naksir kamu. Terlalu nekad aku mencintai seorang gadis sholeha sepertimu.
Emosinya meluap. Tapi perlahan perasaan yang tlah lama mengganjal termuntahkan begitu saja. Hatinya menjadi ringan.
Pemuda : kau tahu… Aku memang bukan orang kaya. Aku hanya seorang Mahasiswa tingkat akhir yang nyambi jadi ilustrator majalah Game. Aku sadar pengetahuan agamaku kurang, beberapa teman bilang aku ini sesat, ngajiku patah-patah. Dan soal penampilan ku [kacamataan, jeans belel, kaos oblong, sendal jepit, rambut disisir sekenanya, kemana-mana megang komik], itu karena adalah gayaku. Itu tanda bahwa aku apa adanya. Tapi lihat hari ini, aku berdandan untukmu.
Seandainya tuh akhkwat bisa disentuh, maka si pemuda pasti telah memegang pundaknya, untuk meyakinkannya, seraya berkata,
Pemuda: Tak bisakah kau menerima aku?
Akhirnya si akhwat mulai bicara. ia tenangkan dirinya agar jauh dari rasa emosinal.
Akhwat : hmm.. bukan. Bukan maksudku menolakmu. Hanya saja…
si pemuda jadi penasaran. Menjadi tak sabar. Waktu seperti terhenti baginya.
Akhwat : Aku belum melihat ada semangat dalam dirimu. Aku melihat kelesuhan diantara dua matamu. Ketakutan dan rasa bergantung pada manusia menyelimutimu. Kau bagaikan sepotong kayu yang terombang-ambing. Kau bahkan tak yakin pada dirimu sendiri. Lantas apa yang kau akan berikan kepada ku, dalam menjalani biduk kehidupan?
sekarang giliran si Pemuda yang terdiam. Ia pasrah ‘dihakimi’. Matanya menerawang jauh, sejauh batas danau diujung rektorat.
Akhwat : Apa yang kuinginkan ialah seorang laki-laki yang terus menempa dirinya. Bukan lelaki apa adanya saja. Tapi laki-laki yang bertanggung jawab dengan semangat terus maju. Seorang laki-laki yang mampu mengajarkan fighting spirit kepada anak-anak kami.
Si Pemuda hanya bisa termangu. Bisu. Ia kembali terdiam, sepertinya termenung. Tak habis-habisnya ia memandangi danau, seakan tak berani lagi memandang si akhwat. Akhwat itu kemudian pergi diam-diam, meninggalkan si Pemuda dan kegelisahannya. Langit menggelap dan hujan pun mulai turun rintik-rintik. Seiring itu, wajah si pemuda menjadi sendu. Ia larut. Ia menderu bersama hujan.
—————Gambar google.
P.s: Postingan di atas bukan cerpen, hanya sepenggal percakapan (fiktif belaka). Dibuat dalam suasana iseng karena ga ada ide untuk menulis. yaudah mending saya latihan dialog.










22 Komentar
Oh…
Aku menangis berikan selembar tisu
norie:
norie:
iseng aja bagus
gimana kalo serius
Jangan-jangan ini kisah dirimu
Bagus cerpennya. Kayakna itu kisah pribadi kamu ya? Kalau bener begitu, yang tegar ya.
iseng..??
gimana kalo gak iseng yah mbak..??
pasti hasilnya sempurna..
“Si Pemuda hanya bisa termangu. Bisu. Ia kembali terdiam, sepertinya termenung. Tak habis-habisnya ia memandangi danau, seakan tak berani lagi memandang si akhwat.”
usut punya usut, ternyata si pemuda termangu karna ngliat sampah yg numpuk di bantaran danau plus bau amis yg menyengat hidung skaligus mata……
bagus ry!
kemaren barusan aku juga ‘nolak’ cowo..
alasannya ya ga beda jauh dari tulisan ini..
gimana cowo itu bisa sayang sama kita, bisa peduli dengan masa depan kita, kalo dia sendiri gak sayang sama dirinya dengan engga tau kemana arah dan tujuan hidup dia..
dia ga tau gimana caranya menghidupi hidupnya..
menghidupi dengan kasih sayang, tanggung jawab, keceriaan, kebersamaan, semangat mengarungi hidup..
be realmantic..
realistis dan romantic
jadi gak enak hati mo koment
terpaksa kasih koment standard:
if it’s worth, then give everything up
ngebaca koment sendiri.. aku ngomong paan yak
*error*
masih baaaaaanyaaaaaak janda-janda miskin eh kaya yang mau jadi istrimu Mas (hehehe mengutip ciri khas ceramah ustadz Zainuddin XZ)….
assalamualaikum,wr,wb..
setuju ma si akhwat..
jgn pernah jd apa adanya..
tp jadilah manusia yg terus menyempurnakan hidupnya..
semoga si pemuda itu aku , akhwat yang bertanggung jawab , tapi memang masih belum ada jodohnya kali ya
cerpen yang menarik , terus berkarya ya
Ah mejeng sini biar wajahku ada di jajaran artis kita hari ini.
Pan jadi terkenal, wajah tak dikenal.
Kupu-kupu di Atas Laut
Ketika laut tak lagi memerintah ombak tuk singgahi pantai
di situlah kupu-kupu bisa menghela nafas
bercumbu dengan laut
bukti ia bisa yakinkan
di atas laut
aku (kupu-kupu) bisa mencumbumu
duhai laut tanpa angin
tak diusik oleh ombak
tak ditelan oleh paus
tak disunting oleh teri-teri
Akulah kupu-kupu
menari seadaku
untuk menghiburmu
wahai lautku…..
(maaf, kalau tidak nyambung dengan postingan di atas ya…. tapi inspirasi puisi ini datang setelah membaca postingan di atas, kemudian diendapkan dengan pengalaman yang baru saja aku dapatkan ketika berdiri di tepi laut bersama istriku tercinta di pagi hari dengan gerimis terundang)
T_T
Sedih juga kisahnya. Kayak kisah pribadi saya. Gagal maning… gagal maning.
astaga..settingnya di rektorat..
bener kata gama..
mending kalo kamu mau nembak cewe jangan disana deh..
bwahahahaha
yah… ternyata jaman sekarang banyak laki-laki yang gak pede ya… (sungguh memelas….)
Get up man…
Aa’ Gym.. dulunya… juga “kalah” ilmu agamanya dari teh ninih.
dan (katanya) yang bikin Aa’ Gym jatuh cinta… adalah… mendengar alunan qiro-ah beliau.
Ayo… kalau memang cinta… dan mau mencari “wanita mulia sebagai ibu dari anak-anak” belajar terus… kejar “ketinggalan”.
Insya Allah… akan diberiNYA (kalau yang ini bukan jodoh… pasti dapat ganti yang “lebih baik)
(Sukron… boleh ikutan nimbrung…
kalau sempat mampir ya di http://maaini.wordpress.com)
hm…
kesan pertama : dialognya bagus kalo bikin sinetron singkat
kesan kedua : kok….gitu yah hm…..[ ooohhhh ternyata cewe tuh pengennya gitu gak jauh beda ma cewe' ku:jawab batin]
kesan ketiga : ehem ehem dialog yg timbul kayaknya dari lubuk yg paling dalam yah [ ho oh huakakaakaka : jawab batin]
kesan keempat : good girl…..i like the spirit
kesan kelima : [kebanyakan komen bro , hehe]
=-=-=-=-==-=-=-=-=-=-=-=-=-=-==-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
just like i said : c’est la vie – http://iwany.wordpress.com
yihaaaaa….keep on movin
untung akhwatnya masi sadar dan menolak si pemuda yg berlindung di bawah payung tipikal cowo “apa adanya saja”
padahal, klu akhwat umurnya dah mule mrambat tak bersahabat…sulit lho…mengambil putusan macam gitu..
* sptnya lanjutan dialog fiksi d depan danau rektorat akan menjadi rajutan kisah yg mengharu biru abu-abu, utamanya kaum melo’,
apalagi diperankan oleh pemuda begajulan tp cakep dan akhwat sholihah berwajah lembut….wih……………………….^^
do you know any information about this in english?
kayaknya kenal juga sama yg nulis cerita nya syapa ya…?
yang di foto “jiji” juga kyaknya kenal…
itu calon istrinya mas…?
bagian pertamanya mana mas …?
One Trackback/Pingback
[...] di atas terinspirasi puisi setelah membaca postingan Merajut Asa (dijenorie’s blog), kemudian diendapkan dengan pengalaman yang baru saja aku dapatkan ketika berdiri di tepi laut [...]