Saya ucapkan selamat hari Kartini kepada wanita se-Indonesia.
Semoga sekarang dan untuk masa akan datang, wanita tidak lagi terjebak pada minimnya pilihan hidup. Semoga wanita mendapatkan kebebasan atas berbagai pilihan yang ingin mereka ambil, sekaligus menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan hidup.
————-
Kartini oh… Kartini. Bila engkau sekarang berada di sini dan dapat mengakses google, Engkau pasti akan bangga dengan prestasi perempuan pebisnis yang mulai setara dengan laki-laki pebisnis. Engkau juga akan senang ketika melihat perempuan muda Indonesia dengan semangat dan giat belajar di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Engkau juga akan kagum menatap perempuan-perempuan politisi yang gigih meneruskan perjuanganmu di ranah yang dulu dikuasai laki-laki. Pergerakan emansipasi dan feminisme bahkan berkembang luar biasa, seakan mendapat restu dari semua wanita. Kekuatan itu Sekarang cenderung menjadi kekuatan baru yang menggantikan kekuasaan laki-laki.
Tapi kartini, coba ketiklah kata yang lainnya di kolom google, misalnya kata “TKI/TKW”. Di sana akan engkau saksikan berita duka TKW. Banyak sudah TKW asal negeri ini yang “dibantai” majikannya di negeri orang. Mungkin engkau perlu pula menyaksikan derita perempuan yang mengalami kekerasan domestik —dipukuli, disiksa atau ditelantarkan oleh suami. Dan aku yakin, engkau akan memulai berderai air mata manakala membaca soal maraknya bisnis penjualan wanita (women trafficking). Ketika perempuan dijadikan komoditi, mereka tak ada lagi harganya.
Hal lain yang perlu engkau ketahui, banyak perempuan di zaman ini, dilarang untuk berkarir. Lucu yach. ketika perempuan ingin menimba ilmu sebanyak-banyak, sometimes ia malah berujung keterbatasan, “buat apa sekolah tinggi-tinggi bila ujungnya hanya mengurusi 3_ur: sumur, dapur dan kasur“. Dan ternyata masih ada saja budaya patriakis yang mengekang perempuan.
Kalau tangismu mulai keras, maka tahan air mata itu, Kartini. Ingat engkau adalah perempuan tegar. Simpan air matamu itu untuk kata-kata selanjutnya. Mari kita lihat gadis ABG yang terjebak pada kebebasan pergaulan, hingga menhingga menukar keperawanan dengan harga yang murah. Korbankah mereka itu? atau mereka itu telah larut pada kebebasan yang berlebihan? Kemudian saksikan juga wanita karir yang kepalang asik mengejar karir hingga melupakan fungsinya sebagai Ibu. Perempuan macam ini tampaknya belum ndak mudeng dengan apa yang engkau perjuangkan dulu.
Hal lain yang jadi potret buram perempuan Indonesia yakni pelacuran, dan ini jadi bisnis besar yang ruar biasa. Dengan omset ratusan juta per hari (baca Kompas, Minggu 20 April 2008). Suatu bisnis yang bisa menghidupi banyak pihak. Mulai dari si Pelacur itu sendiri, kemudian germo, makelar, tukang minuman, penjual kondom dan obat antibiotik, tukang cuci, warung makan, preman, tukang parkir dan masih banyak lagi. Bisnis kotor dengan kepentingan orang banyak yang sudah biasa mengeksploitasi perempuan.
Masih banyak persoalan perempuan, tak hanya ketika perempuan dihadapkan dengan hegemoni laki-laki. Tapi lebih jauh persoalan yang juga muncul dalam diri perempuan itu sendiri.
Walau demikian engkau (Kartini) sudah bisa tenang di alam sana. Sebab di negeri ini masih banyak perempuan yang paham betul tentang arti emansipasi (gender), dan mereka juga tetap mencontoh sikap hidup istri-istri Nabi Muhammad SAW. Perempuan-perempuan seperti ini yang akhirnya mampu memberdayakan dirinya, keluarganya, dan negerinya. Perempuan-perenmpuan yang sadar dan memilih untuk menjadi perempuan paling bahagia.
(postingan ini buru-buru; mengejar momen (Hari Kartini). postingan ini akan diupdate seiring waktu dan kalau ada waktu ^^)
Gambar hasil nyopet dari sini.










15 Komentar
hmmm..
banyak cerita miris tentang nasib perempuan indonesia..
mudah-mudahan saja dengan semangat ala ibu kartini, perempuan indonesia bisa lebih terangkat harkatnya..
semoga..!!
Semoga dijenorie, anak2 ku dan mybini termasuk didalamnya.
Amin.
berbahagialah aku berada di antara orang orang yg memahami harkat dan martabat manusia. meski hidupku berada di negara orang yg kadang warganya tak menghargai hak dan kebebasan pendatang. salam perjuangan! begitu yg sering aku terima dari kawan2 lewat sms, SB, email dah alat komunikasi lainya seperti surat.
Artis datang.
Aku ibu yang berkarir di dapur.
Hidup Kartini ! hidup Norie
kata kuncinya emansipasi….
saya rasa juga Ibu Kartini akan menangis dikuburnya kalo tau bahwa hari jadinya hanya diperingati se-artificial sekarang, bahkan lebih cenderung simbolik. tidak ada aksi nyata…
Sekalian aja main enggrang:))
tuk cew2…harus lebih keren tuh dari Kartini, kan dah ada seperangkat alat perang (teknologi) jd rugi klo masih jg ketinggalan…
jadi terinspirasi judulnya “ketika kartini mbenerin genteng rumah”
hehehe
yah.. kalo aku pribadi sih berusaha berkarir bagus baik di kantor, sumur, dapur dan kasur
bisa ga ya…?
weee……………
jangan salah……………
klo kartini dulu bisa ikut perang…
kalo sekarang kan dah g ada perang…
lagian…
klo di internet gak ada kartininya…
kan hmbar………
bagai sayur tanpa garam…
hahah..
“maksa bgt”
Kartini tak pernah ingkar janji.
loh gak nyambung. Tapi yang pasti, tanpa perempuan “bernama” Ibu, kita gak ada apa-apanya.
seperti apa pun kau nanti datan kepelukanku
bagiku kau lebih hebat dari Kartini
ada bias yang kian memprihatinkan akan makna emansipasi yang digembar-gemborkan.
Emansipasi dimaknai sebagai kesetaraan
Sebuah penafsiran rancu dan tidak masuk akal, bahkan Kartini pun tidak menginginkan emansipasi dalam bentuk absurd seperti itu.
Lelaki dan wanita diciptakan berbeda, sesuai dengan kodratnya masing-masing.
Tapi ketika aroma kepentingan, alteritas ego laki-laki, masuk kedalam ruang lingkup hukum, budaya, kultur. Wanita menjadi semakin tersisih dan masuk dalam warga kelas dua.
Diturunkan secara turun temurun, nilai-nilai yang berat sebelah ini, menjadi semacam kebenaran dan keadaan yang harus diterima oleh wanita.
Sebuah reaksi, dari aksi lateral tersebut, yang sayangnya cenderung menghancurkan tujuan awal dari bentuk protes tersebut, karena diartikan untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam segala hal
Wanita tidak butuh kesetaraan, yang dibutuhkan adalah keadilan.
Kartini tahu itu
*kasihan ibu Kartini*
anw, bagaimanapun untuk bisa mewujudkan keadilan, tidak bisa diwujudkan dari aksi sepihak saja -perjuangan para wanita-
Kaum Lelaki, yang telah menikmati privillege nya selama ribuan tahun, juga seharusnya bisa memandang ini sebagai langkah positip dan bukan sesuatu yang mengancam derajat dan harga diri
*
*eh, tapi berefek pengurangan privillege
ngomong-ngomong, udah panjang lebar ngobrol ga jelas gini kok ndak ditawarin minum, piye tho tuan rumahnya
*ndlosor*
Sebagian perempuan malahan terlalu bebas. Mereka bahkan tidak peduli dengan perempuan lain yang mengalami keterbatasan.
aku masih belum tau nih Norie itu cewek apa cowok ya?