Skip navigation

cermin.jpgHampir setiap orang —lo, gw, mereka dan siapa aja— dapat dikatakan pernah bercermin, setidaknya melihat wajah kita pada bayangan air. Media apapun yang kita pilih, yang pasti bercemin selalu menjadi kegiatan untuk kita berbenah diri. Kebanyakan dari kita tiap hari menyisir rambut, berdandan, membenarkan pakaian, melihat postur tubuh atau sekadar mesam-mesem sendirian —sambil berkata “gile… makin ganteng aja gw!”— dihadapan cermin.

 

Pengkoreksian tampaknya akan selalu menjadi motif kita dalam bercermin. Apapun yang kita lakukan di depan cermin akan membuat kita melihat keadaan menjadi lebih menyeluruh. Bercermin juga akan membuat kita lebih bersikap jujur. Tatkala melihat diri bertambah gemuk, mungkin kita sedikit shock tetapi setidaknya itulah refleksi sebenarnya dari postur tubuh anda. Contoh lain misalnya ketika kita mulai melihat keriput yang memulai hadir di wajah kita, itu menandakan bahwa usia kita makin senja.

Bercermin, dan mengkoreksi diri tampaknya menjadi hal yang alamiah buat kita dan justru hal itu yang membuat kita bener-bener menjadi manusia. Karena itu pula, cermin selain digunakan untuk mengkoreksi penampilan kita juga dapat digunakan untuk mengkoreksi paradigma, sikap dan kebiasaan kita. untuk mengkoreksi hal-hal yang terakhir itu, tentu yang dibutuhkan bukanlah cermin kaca seperti yang ada di kamar tidur kita, tetapi sebuah cermin yang telah diangurah sejak awal kita hidup di dunia ini, yakni hati kita.

 

hati.jpgHati kita adalah cermin diri kita yang paling alamiah, yang secara fitrah selalu membawa kita pada kebaikan, (dan ada lain selain kebaikan). Namun demikian manusia sering lupa bahwa masing-masing dari kita mempunyai cermin itu (baca:hati). Kita lebih sering memakai cermin-cermin yang diberikan manusia lain seperti seperti: bagaimana kita harus memandang dunia, bagaimana kita kita harus bersikap, bagaimana sistem ekonomi yang ada mempengaruhi pendidikan kita, serta bagaimana HAM membuat kita kita jauh pada fitrah kita sebagai manusia dan hal lain yang ternyata tidak sesuai dengan cermin hati kita.

 

Begitu banyak hal di dunia ini yang membuat kita lupa untuk bercermin di hati, dan banyak hal pula yang mengotori permukaan hati kita. Bila hati sudah kotor maka tak ada yang menjamin kalau yang direfleksikan itu adalah kebaikan. Sehingga, hal terbaik yang dapat dilakukan ialah menjaga cermin (hati) itu tetap bersih dan kemudian seperti yang telah menjadi sifat alamiah, kita gunakan cermin (hati ) untuk memperbaiki diri.

 

Philosophy is dead.

Ini adalah Tulisan 2 tahun lalu, dan sekarang diposting lagi.

gambar dari mbah Google.

6 Comments

  1. Sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan, kita harus selalu bercermin… dan berkaca pada diri sendiri, agar selalu introspeksi dan sadar….

    norie: setuju banget.

  2. Wah ternyata pertamax

  3. Yay… kita lebih sering pake kaca spion darifada kaca cermin. Kaca spion digunain buat ngeliat orang laen, merhatiin orang laen… Tafi wajah kita sendiri kagak keliatan. Kita mungkin malu kalo harus menatap diri kita sendiri lewat cermin…

    Kita terlau sering disibukkan menghitung-hitung orang laen, tafi lali menghitung diri sendiri…😥

    norie:
    sudah.. sudah.. cup.. cup, nih tissu lap air mata mu.

  4. Filosofi yang bagus🙂
    Kalau saya di rumah cermin malah jadi sasaran kalau lagi ngamuk:mrgreen:
    *ditabok*

    norie: pecah saja cerminnya biar gaduh hingga mengadu.🙂

  5. oke gunakan mulai sekarang gunakan cermin hati..!
    sepakat!

    norie:
    sepakat!! Tapi kadang kita perlu juga meminta orang lain menjadi cermin

  6. bercermin kayaknya buat saya meneror diri sendiri deh :-p

    kok kayaknya yang ditampilkan sisi negatifnya mulu, heehee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: