Skip navigation

Pesimisme ialah perasaan dan sifat seseorang yang melihat segala kejadian dan keadaan dari sudut pandang yang suram. Baginya semua politikus itu kejam, semua pengusaha itu curang dan rakus, semua aparat penegak hukum  dapat diajak “main mata”, semua PNS itu korup dan malas bekerja. (dikutip dari sebuah buku tua sekali yang robek beberapa halaman depannya. )

Kita tahu, dan sadar, bahwa negeri ini (Indonesia) tengah jatuh dalam “kegelapan”. Krisis multidimensi yang terjadi tak kujung usai. Ini sudah sepuluh tahun Reformasi. Tetapi derita rakyat kecil kian hari bertambah-tambah setelah harga BBM dinaikan. Kita juga sadar negeri ini kerap disambangi bencana, silih berganti (hingga nyaris aku menamainya; negeri seribu bencana). kita juga tahu Birokrasi pemerintah kita bobrok, dengan aparat-aparat yang korup (Katanya sih oknum, oknum kok.. banyak😦 ). Kita juga sadar bahwa negeri ini  dengan terang-terangan sedang “dijajah”. Sumberdaya alam kita diolah dan dinikmati pihak asing. Entah secara sengaja atau bukan, sistem perekonomian kita bergulir kepada kapitalisme.  Beh… seharusnya sistem ekonomi kita ini wangi aroma kebersamaan. Dimana seharusnya diterapkan “asas bersama” (collectiviteit) dan ditinggalkannya “asas perorangan” (individualiteit). (S. Edi Swasono, Perang Harus Kita Menangkan, Kompas. 17 Mei 2008).

Dengan segala kemuraman bin suram ini, masih dapatkah kita berpikir jernih dan merasa tenang? Masih dapatkah sesekali menunjukkan perasaan optimis bahwa negeri ini masih dapat berubah, bahwa negeri ini masih mampu bangkit? (masih ga ya?!)

aaah… aku rasa sulit . Pesimisme itu kadung mendarah dan mendaging. Ketika kita selalu bertanya “mengapa hidup (di Indonesia) demikian sulit?”, sejak itulah pesimisme mulai akrab dengan keseharian kita. Seribu jawaban akan kita paparkan untuk menjawab “mengapa bisa begitu..”. Ooo… sebab karena ini… karena itu… Kemudian kita jadi larutan pada kesalahan masa lalu dan kebodohan masa kini. akhirnya pandangan batin kita jadi begitu buntu ketika dihadapkan pada kemuraman yang ada. Kita jadi “se-jago” nietzsche dalam merefleksikan gelapnya realita sosial di masyarakat. Lantas di mana pandangan kita akan masa depan? Jangan sampai deh kita berujar bahwa masa depan penuh harapan itu hanya utopia.  :( (amit-amit jabang beibi dech)

aagh… mengapa posting-an ini perlahan menjadi penuh ke-pesimis-an begini ya. Ayo… sedikit positif dan optimis. Sekarang kita ganti fokus kita. Dari berfokus pada kesuraman beralih fokus kepada harapan. Yakinlah, di negeri ini masih ada harapan. Sekarang mulailah kita tinggalkan pertanyaan “mengapa hidup di negeri ini begitu sulit?”. Mari kita ganti dengan bertanya, “bagaimana caranya agar hidup di negeri ini jadi penuh dengan kesejahteraan dan keceriaan?”😀

so, bagaimana?

————————

Tulisan yang mungkin saja terkait:

14 Comments

  1. Yups…
    yuk kita optimis. berusaha dengan penuh harapan. Dan jangan anggap kebangkitan nasional itu acara seremonial belaka.

  2. setuju mas, baiknya emang mencari solusi bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.. tidak melihat kebelakang tapi melihat ke depan. dan menurut hemat saya, yang harus di perbaiki pertama kali adalah dari sektor hukum. Dimana hukum di Indonesia haruslah kuat!😉
    ini adalah pr bagi kita yang belum berumur..

    salam,

  3. wah… ganti kulit rie…😀 jadi seger…

    “bagaimana caranya agar hidup di negeri ini jadi penuh dengan kesejahteraan dan keceriaan?”

    bagaimana?? masa ga tau sih… dengan… dengan… mmmm…
    hmmmm…
    ….
    ….
    (2 jam kemudian)
    ….
    mmmmm…

  4. :mrgreen:

    yang mengerikan dari pesimis itu adalah dia membunuh keinginan dengan sangat elegan. Perlahan tapi pasti, hingga bermimpi pun kita tak berani.
    Bermimpi.. sesuatu yang tak perlu mengeluarkan uang pun tak berani *geleng2 disko*

    *mulai mimpi…zzzzzz*

  5. paragraph akhir.. Ikuuuuttt..
    kita harus optimis, dan poitive thinking..
    setujuuuuu!!!!

  6. kurasa kita butuh orang yang tangan besi / dari militer kalo perlu, jadi pada nurut ama pemerintah, gak mau jalan sendiri sendiri, mentang mentang demokrasi, mau sendiri sendiri… eheheheh sekedar opini

  7. Saya percaya pesimisme yang diciptakan yang Maha Kuasa pasti ada gunanya juga. Namun pesimisme yang berlebihan tentu sangat tidak baik. Pesimisme dan optimisme memang saling tarik menarik. Artinya, orang memang harus punya banyak optimisme untuk mencapai sesuatu nah di sini pesimisme juga berperan, ia akan sedikit mengerem laju optimisme tersebut agar orang tersebut tidak sombong dan tidak gegabah yang pada akhirnya nanti akan merugikan orang itu sendiri……

  8. bersama kita bisa laaaah…

    masih optimis slogan kampanye SBY-JK dulu, mudah-mudahan ga cuma jadi slogan kosong aja…

  9. Semoga…

  10. Optimis, Indonesia akan bangkit..mudah2an sih…

  11. tetap semangat! jangan pernah menyerah,
    bangkit itu…………………
    aku…….
    untuk indonesiaku:mrgreen:

  12. Bangkit…
    Bangkit…
    hidup tidak hanya untuk hari ini..
    hidup tidak hanya untuk diri kita sendiri..
    masih ada hari esuk..
    masih ada generasi penerus..
    yg harus kita perjuangkan..
    Bangkit.

  13. Met malming…pokoe sedih gak ada bensin dimana-mana

  14. @all
    Ayo kita smua bangkit membangun Indonesia yang lebih baik.
    Ayo kita bangun image Indonesia sebagai negara yang maju bukan lagi sebagai negara berkembang.
    Ayo bangkit.:D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: