Skip navigation

Saya ingat sekali ketika kali pertama pergumulam itu muncul, itu tahun pertama saya menimpa ilmu di SMA. Itu pertanyaan-pertanyaan fundamental yang menyentak orang muda, macam saya ini. Pertanyaan tentang Siapa Tuhan? dan untuk apa menyembah Tuhan? Kemudian apa guna agama? Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan di jagad blogsphere, orang banyak mempertanyakannya. Beberapa dari mereka (blogger) bersikap kritis dan skeptis, namun banyak juga yang bengis dan atheis.

Seiring perjalanan waktu (ditambah segerombolan kawan-kawan Sholeh) maka satu-satu saya bisa memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pertemuan dan pertemanan dengan mereka itu (para lelaki berparah teduh tanpa kumis yang berjanggut tipis) adalah berkah yang luar biasa. Mungkin bila saya terus berada bersama mereka, hidup saya akan menjadi luar biasa, atau setidaknya menjadibiasa: “menjadi orang biasa, bekerja sebagai karyawan biasa, yang hobi menulis hal-hal yang biasa”. Dan pastinya tidak akan jadi seperti sekarang ini, hidup sebagai “Bajingan” (sorry ya buat orang Jogja), hidup sebagai pencundang. Seorang yang menghabiskan 2 tahun ini dengan kesia-siaan.

Kehidupan pun bergulir, eh entah kesambet jin di mana, pertanyaan serupa yang dahulu muncul lagi. Namun kali Ini soal kehidupan. Apa itu kehidupan? Untuk apa itu hidup?

Kata para orang pinter yang sudah hidup sebelum saya, bilang, “bahwa hidup itu harus dijalani dengan sebaik-baiknya”; “Hidup ini perlu tujuan”; “Hidup tanpa tujuan, sama artinya dengan menyerahkan remote hidup kita pada orang lain”. Pertanyaan soal tujuan hidup itu mengantarkan saya pada pengelanaan yang panjang. Di awal perjalanan saya berkenalan dengan kaset ceramah seorang Ustadz, “membangun kemauan”. Itu menjadi dasar dimana saya melanjutkan perjalanan mengenal tujuan hidup. Kemudian secara kurang kerjaan saya membedakan antara visi dan misi. Secara giat mencari teori dan formula sukses dalam hidup (tanpa pernah dengan sungguh-sungguh menerapkannya dalam kehidupan). Sempat membuat teori sendiri tentang apa hidup dan takdir. Bagi saya hidup adalah pendakian. Satu perjalanan ke atas puncak yang jalannya menuju itu penuh aral melintang, tapi juga banyak panorama indah.

Terakhir secara tidak sengaja, setelah satu talkshow di sebuah radio saya terinspirasi oleh Napoleon Hill, Mbah dari semua Trainer kesuksesan. Namun demikian Setiap langkah dalam kehidupan saya membawa saya pada rasa haus akan kejelasan akan hakekat kehidupan. Saya mencoba mengkonkritkan hakekat hidup. Ada yang berkata bahwa hidup adalah untuk belajar. Namun ternyata ada juga orang yang tidak pernah mengambil pelajaran pun, bisa hidup. Lalu ada yang berkata, hidup adalah perjuangan, tetapi toh ada orang yang bersantai-santai bisa juga hidup juga. bahkan dulu saya sempat berpikir… kalau hidup hanya soal gaya hidup. it depend on the things that we belief in.  Makin ga jelaskan? Lah lantas apa hidup?

Memahami hakikat kehidupan bukanlah hal yang mudah. Karena mungkin hidup bukanlah untuk diabstraksikan. Hidup menuntut kita “memainkan peran” (play role) satu panggung yang demikian luas.

Memahami hidup rasanya tidak lengkap bila tidak memahami kematian. Hiidup di dunia ini tidaklah abadi. Hidup diawali oleh kelahiran dan berujung pada kematian. Mungkin beberapa orang percaya bahwa setelah ujung itu (kematian) orang akan hidup lagi (Re-inkarnasi). Tapi hal yang semacam itu tak jadi soal. Sebab yang hidup pasti mati. Bukankah tiap-tiap jiwa itu akan merasakan kematian. Dulu sempat saya bersama gerombolan Sholeh melakukan observasi di RSCM. Setelah melihat melihat banyak penderitaan, so much pain, kita sampai di ruang yang penuh senyum, dan gelak tawa, kalau pun ada tangis, di sana itu tangisan bahagia. Yup, itu adalah ruangan bayi. Bisa kita lihat wajah-wajah bahagia dari ayah-bunda.

Hidup hanya satu kali. Setelah itu adalah Kematian. Saya PASTI mati, anda juga, mereka yang agamais, nasionalis, komunis dan bahkan seorang Atheis dengan segala kesombongannya juga tidak bisa lolos dari kematian. Percaya atau tidak memang demikian adanya. Tidak percaya? silahkan anda habisi nyawa anda sendiri. Setelah itu cobalah bangkit dari kematian. Kematian adalah kepastian. setiap manusia pasti mati. Ini hanya soal waktu, it’s matter of time. Bisa jadi besok, atau bahkan satu menit dari sekarang kematian itu menjemput. Kematian juga tak pilih-pilih. Tak pernah ada jaminan bahwa yang lahir akan berusia lebih panjang dari mereka yang sudah tua. Bila waktunya tiba, anda tidak dapat berkata “tidak, saya belum siap!”.

Yang bernyawa pasti mati. Termasuk blogger. Blogger toh juga manusia biasa.

Bayangkan, ada sebuah blog yang tidak lagi ada postingan baru. Awalnya rekan dari blog itu akan berpikir bahwa si blogger sedang malas menulis. Kemudian setelah 2 bulan teman-teman dari blog itu berpikir, bahwa blogger itu sedang hiatus. Kemudian setelah setelah setahun tanpa postingan baru dan kabar, orang-orang mulai yakin bahwa si blogger tersebut telah mempunyai mainan blog baru tapi tidak memberi tahu. Atau dengan beberapa alasan beberapa orang berkesimpulan si blogger telah pensiun dari jagad blogsphere.

Namun ternyata di satu sudut di suatu TPU, pada ruang berukuran 1×2 meter terbaring seorang blogger kenamaan. Di batu nisa hanya tertulis nama, tanggal lahir dan tanggal kematian. Dan itu tanpa link ada yang bisa di click untuk menuju ke blog ke sayangannya.

Blogger telah mati meninggal. ya… meninggal dalam arti yang sebenarnya. Ia menuju keharibaan Yang Maha Kuasa.

Kematian seorang manusia adalah hal yang alamiah. Begitu yang juga dengan kematian seorang blogger. it’s normal. Bahkan semua itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Apa yang menjadi menarik justru ada dalam pepatah lama: Gajah mati meninggalkan gading; Manusia mati meninggalkan namanya: lah blogger mati meninggalkan apa? yup… meninggalkan tulisan-tulisan di dalam blog yang ia kelola selama hidupnya. Nah selama blognya masih aktif maka tulisannya masih bisa diakses oleh orang lain. Tulisan yang di-post dalam sebuah blog bisa berupa-rupa macanya, bisa berupa berita, makalah, opini, ilmu dan bahkan sampah (seperti kebanyakan postingan saya). Bila postingan tersebut berisi ilmu yang bermanfaat maka itu hal yang baik baik si blogger, karena itu bisa menjadi amalan jariah. Atau (bila anda tidak percaya pada pahal dan dosa) setidak postingan dan blog tersebut menjadi Legacy. Lah bagaimana bila kebanyakan postingan di-post adalah hasutan, penghinaan, fitnah dan segala caci maki yang ditujukan untuk seseorang, isntansi, agama, atau Tuhan tertentu. Maka… maka apa coba? (isi sendiri ya…😀 )

Tiga paragraf sebelum paragraf ini memang tidak nyambung dengan tema postingan kali ini. So, balik lagi ke tema utama. Hidup hanya satu kali. Dan Setiap orang PASTI mati. hiduplah untuk hari ini. Siapa yang tahu bahwa kita masih hidup esok hari. Siapa juga yang jamin kita besok mati? Memang tidak pasti besok. Setidaknya anda PASTI mati.

Hiduplah untuk hari ini mengisyaratkan pada dua kondisi atau gaya hidup yang amat berbeda. Bila kita percaya tak ada kehidupan setelah kematian. maka hiduplah dengan hari ini, dengan menikmati dunia, dengan berbuat semaunya (sesuka kehendak anda), toh hidup hanya satu kali. Dan jangan biarkan hal-hal diluar anda “mengganggu” hidup anda. Enjoy the life. Kunjungilah tempat-tempat Indah di pelosokan negeri. Tulislah apa saja di blog anda karena tiada hidup setelah mati.

Hiduplah untuk hari ini juga berkonsekuensi pada sikap yang berlawanan dengan sikap di atas. Bila anda percaya ada kehidupan setelah kematian dan disana Tuhan meminta pertanggungjawaban anda, maka hiduplah untuk hari ini seakan-akan besok anda mati. Persiapkan bekal anda menuju kematian. Perhatikan setiap langkah anda karena itu dimintai pertanggungjawaban. Tebarlah kebaikan sebaik mungkin sbelum anda mati ,karena itu dapat menjadi poin positif ketika anda di sidang di sana.

Sebenarnya pemahaman tentang hiduplah untuk hari sudah saya tahu dari dulu. Hanya saja waktu itu mata saya belum terbuka. Serta ada selaput yang menutup telinga saya. Mungkin karena terlalu banyak berkeliaran dan gentayangan di dunia maya.

Kalau anda merasa tulisan di atas abstrak. Yup… anda serupa saya. Lah lantas apa tujuan saya memposting tulisan di atas?

Saya mau pamit kepada para pembaca dan teman-teman blogger yang saya kenal. Saya rehat sebagai blogger. Saya Rehat untuk waktu saya tidak bisa saya sebutkan.

Saya harus menuntaskan sebuah “unfinished business”. Urusan penting yang saya remehkan. Urusan yang saya tunda 2 tahun lalu itu kini meresahkan saya. Sungguh merepotkan. yaa… Mumpung masih ada waktu di dunia saya harus menyelesaikan urusan itu. Sampai tuntas.

Dan mungkin inilah pelajaran dari menunda sesuatu. Merasa bahwa esok kita PASTI masih hidup adalah kesalahan. Andai saya dulu mau menelan pil pahit maka tentu sekarang saya akan menikmati madunya (halah… masih juga berandai-andai). Memang sudah saatnya saya keluar dari comfort zone. Keluar “lubang kelinci”, lubang imajiner (yang sedikit saya sesali) yang menjadi portal saya masuk ke dalam Neverland. Ini waktunya menghadapi realita hidup, yang dulu saya ga bisa terima (lah emang sekarang sudah?). hmmm… mungkin inilah saatnya bertebaran di muka bumi (the real wolrd, real reality). Dunia yang sempat saya tinggalkan karena lost in space internet.
dan untuk itu saya harus membatasi 90% urusanku di dunia maya (Including chatting, cheating, gaming, blogging, “hacking”, browsing, downloading etc). 10% yang penting sperti nge-email tetap harus dilakukan (spertinya).

Inilah saatnya dimana hobbit membuat sejarah bukan sekedar cerita. Hobbit make History.  Saya memang “gagal” memaknai kehidupan namun saya berharap saya berhasil menjalani kehidupan.

Kalau “unfinished business” selesai saya pasti jadi orang yang lebih baik, lebih bijaksana and getting better than before. Kalau pun tidak selesai setidaknya saya serahkan hari ku ini.

-Dije Norie
*Pamit*

Thank’s to GAMA, lo sudah menantang gw. Gw terima Tantangan lo.

10 Comments

  1. wah postingan yang panjang dan serius…

  2. Yah, kehidupan itu ada tersandungnya, tapi kehidupan itu selalu berjalan terus, seiring dengan waktu… pertanyaanya, mampukah kamu menjalaninya ?

    ah, masa hidup di dunia fana ini sulit sih ? tinggal bernafas kan ?

  3. 😀

  4. manusia gak diciptakan sempurna :-p

  5. wah…yahhh..

    mau bilang apa lagi..semua yang ingin saiah bilang udah di bilang ama sang penulis..

    mungkin akhir kata,,saiah mau ucapkan selamat berlibur dari dunia maya..n ketika kembali nanti..jangan lupakan oleh2 untuk kami2 yang di dunia maya ya..hehe..

  6. great.. finally..🙂

  7. norie….

  8. met taun baru norie

  9. he…

  10. Norie I miss you ! where asre you my friend ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: