Skip navigation

Category Archives: refleksi

Akhirnya harga BBM resmi dinaikkan (sejak beberapa hari lalu). Namun demikian demonstrasi menentang dinaikkannya harga BBM masih saja bergulir. Beberapa mahasiswa pun diciduk polisi.

Banyak orang pusing mikirin harga BBM. Yang stress tambah stress. Yang ga nerimo jadi ikutan stress. Sebagian bersikeras tetap berdemo agar harga BBM tidak jadi dinaikkan. Disinyalir beberapa aksi masa dimotori oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Maklumlah tahun depan sudah bakal pemilu.

——————

Hmm… menurut mana yang lebih keren, lebih hebat dan lebih wogh… Read More »

Salus Publica Suprema Lex Esto

-Cicero

 

Mobil mikrolet nomor 17 jurusan Garut Kota – Wanaraja itu melaju menembus hujan lebat yang turun di Garut. Meski hujan deras tetapi suara lantang penceramah dari Toa sebuah masjid kampung yang dilalui terdengar oleh sang supir, kernet yang duduk di samping sang supir, seorang teman, penulis dan dua orang penumpang lainnya.“ahhh, masing keneh ajengan ge amun tos jadi pejabat mah ngabangsat (biarpun kiyai kalau sudah jadi pejabat pasti jadi bangsat),”ujar sang supir setengah berteriak. Read More »

Pesimisme ialah perasaan dan sifat seseorang yang melihat segala kejadian dan keadaan dari sudut pandang yang suram. Baginya semua politikus itu kejam, semua pengusaha itu curang dan rakus, semua aparat penegak hukum  dapat diajak “main mata”, semua PNS itu korup dan malas bekerja. (dikutip dari sebuah buku tua sekali yang robek beberapa halaman depannya. )

Kita tahu, dan sadar, bahwa negeri ini (Indonesia) tengah jatuh dalam “kegelapan”. Krisis multidimensi yang terjadi tak kujung usai. Ini sudah sepuluh tahun Reformasi. Tetapi derita rakyat kecil kian hari bertambah-tambah setelah harga BBM dinaikan. Kita juga sadar negeri ini kerap disambangi bencana, silih berganti (hingga nyaris aku menamainya; negeri seribu bencana). kita juga tahu Birokrasi pemerintah kita bobrok, dengan aparat-aparat yang korup (Katanya sih oknum, oknum kok.. banyak 😦 ). Kita juga sadar bahwa negeri ini  dengan terang-terangan sedang “dijajah”. Sumberdaya alam kita diolah dan dinikmati pihak asing. Entah secara sengaja atau bukan, sistem perekonomian kita bergulir kepada kapitalisme.  Beh… seharusnya sistem ekonomi kita ini wangi aroma Read More »

Lama sudah, aKu tidak berkunjung ke dunia maya. Tempo hari terpaksa harus dirumah saja. Beberapa hari yang menyebalkan. Sakit itu menderaku berhari-hari. Gejala tifus (baca: penyakit langgananku) kambuh lagi. Wajar memang, karena hampir tiap hari dalam semingguan, aku rutin menyantap gorengan dan makan mie. Mie ayam terutama (dengan saos dan sambalnya yang buaanyak). Aku sadar bahwa kalau terus makan makanan seperti itu berpotensi mendatangkan penyakit. Dan benar saja. Aku jadi sakit. Tapi mau bagaimana lagi. Aku kadung suka yang seperti itu. Ya mungkin sudah mencandu.
Candu itu tidak selau identik dengan narkotik dan obat-obatan terlarang saja, tetapi segala juga hal yang membuat kita ketagihan dan ketergantungan padanya. Ada temanku, sulit sekali lepas dari kebiasaan merokok. Baginya mending ga makan seharian, ketimbang tidak ketemu batang tembakau itu. Lain lagi kisah anak tetanggaku yang sudah candu main PS (PlayStasion). Ia bisa duduk tenang berjam-jam di depan layar sambil jemarinya terampil bergerak di atas tombol permainan. Dan mungkin untuk beberapa orang aktivitas korupsi sudah menjadi semacam candu. Itu membuat orang tergantung padanya. Sekali, duakali mungkin khilaf, tapi bila berlanjut terus akan menjadi nikmat dan membuat ketagihan.
Nah, bagaimana dengan anda? Anda mencandu pada sesuatu? (silahkan sharing di sini) 😀

Pernah mendengar pernyataan “Negera tidak bisa mengintervensi keyakinan orang” atau mendengar “kita tidak sepantasnya menghakimi keyakinan dan pemikiran orang lain”. Yah.. pernyataan serupa itu banyak dan makin banyak semenjak usulan sejumlah pihak untuk membubarkan Ahmadiyyah.

***

Bila negara tidak melarang orang untuk meyakini atau beragama apa pun, tentunya seharusnya Negara juga tidak perlu melarang orang yang tidak beragama (a.ka. atheis). Read More »

Itu pagi yang cerah. Mobil dan motor seliweran kesana-kemari. Bis-bis saling ‘bantai’, menggaet ‘sewa’ (baca:penumpang). Udara pagi itu sudah tak segar lagi. Asap-asap knalpot belepotan ke mena-mana. Aku seperti dijejali racun. Sabar… pikirku. Aku berharap bis yang kutunggu segera tiba.

Alih-alih memikirkan udara kotor, aku alihkan saja pandangan ku. Seperti biasa aku memulai mengobservasi orang-orang sekitar. Haha… ber-ubahlah aku seketika menjadi psikolog amatiran. Memperhatikan raut wajah orang dan menerka apa yang sedang mereka rasakan atau pikirkan, merupakan hal menyenangkan loh.

Di depan ku itu ada seorang perempuan. Anak kuliahan gitu deh. Aku lihat sedari tadi ia menelepon. Asik banget deh kayaknya. Bertelepon-ria ia sambil tersenyum-senyum, dan kadang terbahak-bahak. Untung saja ga bikin se-isi halte heboh. Entah siapa yang sedang ia telepon, mungkin pacar atau sahabat karibnya. Sekarang sudah 15 menit berlalu dan ia masih asik ngobrol (kayaknya lebih deh). Read More »